Barangkali sebuah kesialan bagi anak manusia jika harus merasakan rindu kepada seseorang sedangkan orang yang dirindui tidak merindukannya. Mantap. Bagaimana rasanya? Jangan ditanyalah! Hanya membuat hati kian membara! Dan, kali ini, kenapa harus aku?! Sudah beberapa kali aku harus merasakan bagaimana menahan rindu dan bongkahan rinduku luluh lantah!?
Tahukah kalian kepada siapa aku merindu, kini? Bukan! Bukan kepada pria yang baru ku temui. Tapi, aku sedang dihempas badai rindu kepada sang mantan! Mantan kekasihku! Dan, kubiarkan kali ini jemari hatiku menuangkan secarik surat rindu untuknya; mantanku! Maafkan aku!
Bukannya aku tak paham diajari satu dua kali;
Bahwa kamu—sebagaimana terakhir kita berbicara—sedang ingin sendiri!
Kuharap kamu tak salah paham kali ini!
Aku sudah mencoba kompromi dengannya
Tapi, selalu saja; rindu itu lebih kuat dibandingkan dengan akal sehatku
Sekali lagi; Aku memang payah!
Apa kabar mantan—Kekasihku? Aku harus jujur, dikala rindu menghampiriku, dua hal yang kurasakan; bahagia dan benci! Bahagia karena bisa mengenang masa-masa indah dan awal mula pertemuan kita. Dan setelahnya benci! Benci karena harus mengenang atau tepatnya menerima kenyataan bahwa kita harus berpisah...Aku sadar betul, setiap pertemuan pasti ada perpisahan! Tapi....sudahlah....jangan dibahas. Aku mau melepas rindu saja kali ini....
O ya, aku harap kamu dalam keadaan baik, sehat, begitu juga dengan keduaorang tuamu serta saudara-saudaramu. Sayang sekali ya, meski usia hubungan kita saat itu cukup lama—tapi tidak mengapa, aku mengerti. Saat itu kan kamu emosian, kan—kini bagaimana? Ya, aku ingat sekali,
Boleh jadi kamu ingin bertanya tentang kabarku?—Aku sendiri dalam keadaan baik! Bagaimana studimu? Bentar lagi lanjut lagi kan?? Lalu lulus, ya? Ergh- Kalau udah lulus bentar lagi nikah, ya? Sama siapa? Kapan ? Aku diundang nggak?
Argggghhhhh! Ganti topik, ya?!
Kamu masih ingat?! Kita pernah sepakat, bahwa kita akan selalu cerita jika terjadi pergolakan isi hati. Aku mau bilang, kalau beberapa hari yang lalu aku masih saja menangisi kepergian mu. Tahu tidak?! Ada pria lain yang sedang cari perhatian pada q.Kupikir dialah yang akan menghantui setiap malam-malamku. Tapi sama sekali tidak! Sesekali memang aku sangat terpesona dengannya. Tapi. Aku justru malah berbalik rindu kepadamu! Bingung? Sama!
Ergh, boleh aku menulis namamu dengan kata sayang?!
Kali ini saja, disurat ini saja, boleh, kan?
Sayang, aku membaca beberapa bait syair dari Jalaluddin Rumi yang berkaitan dengan isi hati. Jika isinya itu bunga, maka pasti harum dan indah. Jika isinya bangkai, maka pasti busuk aromanya. Syahdan, dalam Al Hikam aku jumpai sebait kalimat, bahwa kalimat yang terucap dari mulut adalah cerminan dari hati si pengucapnya! Intinya, kita dituntut untuk jujur! Cinta ya Cinta! Benci ya Benci! Rindu ya Rindu! Jangan bohong!
Lantas, apakah rinduku kali sebuah isarat bahwa aku masih cinta padamu? Aku tidak mau terlaru berandai-andai. Cukuplah bagiku ini sebagai sebuah isarat, bahwa meski kita tak lagi dalam ikatan pacaran. Tapi, komunikasi janganlah terputus. Aku heran. Ada apa denganmu. Akhir-akhir ini susah untuk dihubungi dan sebagainya. Seakan ingin menghilangkan diri. Atau, apakah karena kamu terganggu denganku? Apakah kamu kini menganggap silaturahmi yang aku lakukan bagaikan sebuah PDKT, sedangkan kamu tidak suka dengan hal itu? Sungguh, niatku tak seperti itu. Aku kini sudah menerima semua kenyataan; bahwa jodoh ditangan Tuhan!
Sayang, lepas dari apa yang kupersoalkan dalam surat ini. Maafkan aku. Faktanya,saat ini aku memang sedang merindumu. Soal apakah kamu pun seperti itu atau tidak, aku tak begitu peduli. Terima kasih.
Izinkan aku melantunkan sebuah syair; buah karya Ananda Mora Parlindungan Hasian Harahap
BALADA (putusnya sebuah percintaan)
ku putuskan untuk duduk sendiri di danau ini
sedang kenangan kita yang bisu mulai bicara dengan bahasa yang pedih
konon sebenarnya aku tak sendiri
kerna bayanganmu masih tepat berdiri disana
di tepian danau bersama kunang kunang menarikan lagu yang berjudul luka
daun daun juga masih saja mengejek aku padahal mereka sendiri berguguran dalam ketidakpastian
takdir menjadi begitu dingin oleh dua pasang kupu kupu berkepakan
begitu pun dengan waktu yang berhenti mengalir di jam pasir ini sejak kau beranjak
seharusnya menyuguh aku dengan secangkir cinta dan sajak sajak
di bawah terang bulan
air mataku menghujan
Salam
Dari Mantan—Kekasihmu!